Recent update

Subscribe to RSS feed

anjing

January 21st, 2009 by niqisfreax

lempari anjing yang lari ke arahmu karena dia ninggalin tuan lamanya, karena dia juga ga bakal bertahan ma kamu lama.

Gimana kalo anjingnya kita?

Gimana kalo tuan barunya bener-bener butuh “anjing”?

gimana kalo anjingnya bener-bener ….

pepatah itu susah banget, tapi pasti sering ada di hidup…menyebalkan, emang…

kesetiaan itu diukur pake apa si?

lamanya?

gimana kalo ternyata kesetiaan bisa dipalsuin?

gimana kalo ternyata kesetiaan adanya dihati, ga bisa dilihat?

gimana kalo perilaku orang yang ga setia bisa lebih “setia” daripada yang beneran setia?

jadi kita yang mana?

anjing, tuan lama, atau tuan barunya?

Posted in Uncategorized | | | 0 Comments

graph 1

January 21st, 2009 by niqisfreax

GRAPHOLOGY
Banyak cabang ilmu yang ada dalam Psikologi (maksud saya bukan minor dari Psikologi, tapi ilmu turunannya). Salah satunya Graphology, yang ada diantara Palmistry, dan beberapa ilmu laen yang kayak ilmu mbaca kepribadian dari wajah itu. Beberapa waktu lalu, salah satu dosen saya ngomong “emang itu uda ilmiah?” waktu saya ngomongin kalo saya mendalami Graphology. Karena dia dosen, dan waktu itu lagi seleksi saya males aja memperpanjang.
Saya pikir ga bakal ada ruginya mpelajarin ilmu kayak gitu, selain penggunaan asesmen resmi kayak DCT, DAP, atau HTP karena pada dasarnya dasar teori yang di pake ga jauh beda. Coba kita bandingin mulai dari administrasi sampai penilaiannya (yang menurut saya kurang pantas untuk di kuantifikasikan), ilmu-ilmu itu punya prinsip yang sama dengan meng-asses segi visual, mulai dari ruang, garis, titik, bentuk, sampai tekanan yang ada diatas kertas.
Sebenernya Graphology ngacu ma teori besar yang kebanyakan anak Psi pasti tau, Gestalt. Gestalt ngeluarin prinsip judgementnya yang isinya secara garis besar ada 3: form, movement, ma space. Ilmu ini banyak digunain ma terapis, yang berarti sangat berguna bagi kalian yang ngambil minor klinis, untuk bisa mencapai ke keadaan bawah sadar klien, menembus defense yang dipaksakan klien untuk keluar dalam sesi terapi.
Sebuah prinsip dalam menganalisis graphology yang extremely important, urgent, definitely absolutely needed adalah prinsip kalo ga ada satu elemen yang bisa dijadiin acuan tunggal tentang pembacaan kepribadian. Semua elemen terkait, dan kebanyakan graphologist ngembaliin semua hasil analisis ke tiga prinsip besarnya Gestalt yang tadi dah disebutin.
Kita bisa mulai dengan pengaturan ruang yang ada di kertas, kendalanya adalah kebanyakan orang Indonesia dibiasaain untuk nulis diatas kertas yang ada garisnya. Secara Psikologis ini bukan hal yang baik, kertas yang kosong tidak memberikan stimulus visual apa-apa dan dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi penulis untuk melakukan apapun: gambar, bentuk tulisan, dan ukuran dengan variasi yang bebas. Tentu saja hal ini akan lebih menguntungkan graphologist dalam ngasses tulisan tangan kliennya.  Secara lebih spesifik yang kita cari dalam spatial arrangement adalah komparasi antara warna hitam (tulisan) dan putih (kertas dan sisa ruang). Tentu aja ga berlaku kalo kertasnya malah digambari. Garis yang ditimbulin dari tulisan dari kanan ke kiri namanya baseline.
Secara kognitif spatial arrangement itu nunjukin fungsi dari kehidupan dan pengaturan waktu klien, apakah terorganisir atau tidak, tehnisnya bisa diliat dari keseimbangan antar ruang antar kata huruf dan ruang yang ditinggalin dikertas. Secara fungsi sosial spatial arrangement nunjukin jarak fisik dan interaksi sosial yang sedang dialami dan dibutuhkan penulis.
Orang yang antar katanya terlalu deket adalah pemikir yang subjektif dan cuma punya dikit waktu untuk introspeksi,  orangnya ga bisa ngeliat masalah secara keseluruhan (ngmabil jarak untuk ngeliat whole perspective), disisi lain dia pengen menuhin hidupnya ma kegiatan, makanya banyak masalah yang ga selese.
Kalo hurufnya yang keliatan terlalu deket, nunjukkin kalo orangnya butuh banget yang namanya interaksi sosial, orang ini punya rasa ingin tau yang berlebihan, kadang suka terlalu banyak ikut campur. Dia sebenernya pengen mastiin kalo orang disekitarnya ga ninggalin dia, dan terus mastiin kalo everything is OK, kira-kira nyaman ga ma orang yang kayak gini?
Secara garis besar, kalo orang yang tulisannya keliatan crowded banget, tambahan lagi kalo spacingny deket banget, dia pengen punya kontrol penuh atas orang disekitarnya, karena kalo ngga, ia ngerasa bakal ditinggalin. Perilaku ini salah satu ciri BPD (kasi comment kalo mau tau kepanjangannya). Ada lagi yang harus diwaspadain, kalo hurufnya banyak yang numpuk, orangnya rentan bunuh diri. Iiiii…!!!
Sebaliknya, saya rasa ga usah dibahas, karena saya yakin kalian cukup cerdas untuk mbalik logika kausatif tehnisnya. Lagipula, ini Blog saya.
=P
Tambahan buat kebalikannya, seandainya jarak antara kata agak lebar, nunjukkin kalo orangnya lebih ngejar tujuan intelektual daripada hubungan sosial, orang yang objektif dan netral, bisa memandang sesuatu dengan sudut pandang yang luas, dan butuh waktu untuk mempertimbangkan sesuatu dan berpikir, merencanakan dan melaksanakan segala aktivitas yang ada dalam otak besarnya. Orang ini tidak terlalu memperhatikan janji dalm hubungan sosial, orang yang lupa ma ulang tahun orang lain, orang ini agak pemilih dalam berteman, suka jaga jarak dan dia suka terperangkap dalam pemikirannya sendiri yang imajinatif dan menurut dia itu udah cukup untuk mem’bumi‘.
Dalam derajat yang ekstreme, orang yang jarak antar hurufnya terlalu luas bisa dibilang terisolasi dari hubungan luar, jika ada yang ngeliat orang kayak gini, tolong jangan dijauhi, ada ketakutan bagi mereka untuk membangun hubungan sosial, kemungkinan akibat pembelajaran yang salah di masa lalu atau trauma terhadap hubungan serupa karena adanya peristiwa yang cukup katastropik buat mereka. Mereka biasanya takut untuk memulai hubungan karena takut dianggap salah atau malu-maluin (bodoh) diri mereka dan orang yang disekitarnya. Biasa disbut agoraphobia ada juga yang nyebut APD (kasi comment kalo mau tau!!!)
Cuykup tentang spatial arrangementnya, kita mbahas masalah font dan bentuknya. Ini merupakan bagain yang ada diperingkat paling atas dikesadaran kita kalo kita nulis, ya beberapa orang juga kebanykan ga sadar kalo ga ada yang ngomentarin, jadi bentuk dari tulisan juga ga hany hasil belajar, tapi juga bentukan dari hubungan sosial yang ada di sekitar penulis (klien). Hal ini sering diinterpretasikan sebagai ego-nya penulis (ingat Freud), bagaimana penulis sebenerny ingin dilihat oleh orang lain. Tulisan ga kayak gambar yang bisa dibuat-buat, tulisan nunjukkin siapa sebenernya penulis, jadi kalo ada penulis yang dibuat-buat, kaliatan agak ga nyata tulisannya, caper tuh orang, kalo Jung bilang itu persona, tapi sebenernya dalam tulisan juga bisa kita liat mirror dari diri yang aseli.
Bentuk tulisan yang positif memiliki nilai pembelajaran daripada bentuk yang mereka pelajari waktu kecil, kebanyakn mengalami penambahan nilai simplifikasi yang berarti mereka menulis lebih efektif dan tetep bisa kebaca.  Hal ini nunjukkin intelejensi mereka yang cukup tinggi, dimana mereka bisa hidup diantara peraturan sosial, dan tetep bisa nunjukkin diri mereka sendiri dan bagaimana mereka menangani masalah dengan cara mereka sendiri.
Ada masalah sama orang yang terlalu mensimplifikasi tulisannya, bukan pertanda yang baik, modelnya kayak tulisan ank kecil yang lagi males diajarin ma belajar nulis, jadi tulisannya hampir ga ada bentuknya, ada kemungkinan stress mental, dan juga belum nyatunya beberapa kepribadian yang dalam penulis.
Sekarang kita melangkah ke gerakan penulis. Kalo Freud bilang adanya Id, hal ini direpresentasikan dalam gerkan nulis ma penulis (klien). Biasa juga diebut drive ma beberapa ahli lain. Drive itu tingkatannya lebih tinggi dari motivasi, energi yang terkandung dalam diri individu, kalo di Indonesiakan bisa dibilang semangat juang, ketahanan, ma kestabilan emosi juga kira-kira bisa koq. Kalo dalam tulisan hal ini keliatan dari tekanan pena, ritme ma kecepatan tulisannya. Zaman sekarang uda jarang dosen yang mau mbaca tulisan anak didiknya akn, sebenerny hal ini mengurangi kemungkinan dosen untuk menganalisis permasalahan belajar anak didiknya, saya kira mereka cuma males aja.
Orang yang punya niat yang kuat tulisannya agak tebel dan tekanan kertasnya bisa nembus tapi ga mpe robek lah kertasnya, gerakannya lancar dan gaya tulisannya cepet.
Orang yang depresi, gaya tulisannya tipis, tekanan ga keliatan sampe sebalik kertas, gerakan agak terhambat dan kecepatan nulisnya keliatan agak ragu.
Satu lagi yang harus ditambahin, kalo tekanan ke kertas agak berlebihan, dan gerakan keliatan ga stabil, ati-ati ma orang ini, biasanya jarak antar hurufnya juga terlalu deket. Mau tau kenapa? Give this writing a comment!!!
11 “Archetypes of the Collective Unconscious” (1935). In CW 9, Part I: The Archetypes and the
Collective Unconscious. P.43
Courtesy of Sheila R. Lowe, B.S., Psy, C.G

Posted in Uncategorized | | | 1 Comments

  • Pages

  •  

    January 2009
    M T W T F S S
    « Dec   Feb »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Recent Posts

  • Recent Comments

  • Archives

  •